Jumat, 24 Februari 2012

DARI SARASEHAN PEMBERDAYAAN LEMBAGA ADAT

Denpasar, Keberadaan lembaga Banjar dan Desa Adat di Bali khsusnya Kota Denpasar dengan kemajuan teknologi sekarang ini, diharapkan tidak tergerus dengan arus globalisasi dan modernisasi yang menyebabkan perubahan perilaku. Hal ini juga menjadi tantangan yang kompleks dan sangat heterogen seperti banyak kenakalan remaja dan masalah ekonomi kapitalis. Untuk itu bagaimana kedepan dalam menjawab tantangan ini dengan membentuk budaya kota dan bebuat berdasarkan filosofi agama. Menghadapi perubahan-perubahan yang terus menerus dari waktu ke waktu maka perlu kita mengetahui inti dasar dari Kebudayaan, sebab kebudayaan itu dapat selalu berubah-berubah sesuai dengan perkembangan jaman, namun dengan adanya perkembangan ternologi serta modernisasi jangan sampai meperlemah tradisi atau kebudayaan, tetapi bagaimana dengan perkembangan itu dapat memperkuat kebudayaan. Demikian disampaikan Walikota I.B Rai Dharmawijaya Mantra saat membuka Sarasehan Lembaga Adat dari Persepektif Ekonomi Berbasis Kearifan Lokal, Kamis (23/2) di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Denpasar. Sarasehan ini diikuti seluruh kelian Banjar, Bendesa Pekraman, Ketua LPD dan Pengurus Koperasi se-Kota Denpasar dengan menghadirkan beberapa nasumber seperti IB. Gde Wiyana, Prof. Dr. Nyoman Budiana, Wayan Sudarta, Made Astrawijaya dan Wayan Gatha.

Lebih lanjut Rai Mantra mengatakan kegiatan kali ini sebagai tindak lanjut seminar yang dilaksanakan pada hari Rabu (22/2) lalu yang menghadirkan Wamen PAN dan RB Prof. Dr. Eko Prasojo, untuk memperkuat eksistensi Lembaga Banjar ditengah arus globalisasi melalui pemberdyaan koperasi ekonomi kreatif berwawasan budaya dalam menopang pelestarian tradisi masyarakat Kota Denpasar. “Kami berharap melalui sarasehan ini ada perubahan pemikiran bagaimana fungsi-fungsi lembaga adat dapat tetap berjalan dengan baik dan diperkuat, serta dapat dikembangkan sehingga mampu menopang pemberdayaan perekonomian warga masyarakat,” kata Rai Mantra.

Dalam pelaksanaan hari raya Nyepi mendatang, Pemerintah Kota Denpasar melalui Dinas Kebudayaan telah memberikan pemahaman kepada Sekaa Teruna tentang makna hari suci Nyepi dan diharapkan dapat menjaga kesuciannya. Pada hakekatnya menurut Rai Mantra Visi Denpasar menjadi tantangan kita kedepan dalam pembangunan berbasis budaya. Dimana kedepannya mampu untuk menghantar umat mencapai tingkat kesejahteraan secara lahir dan batin. Bahwa konsep pembangunan berwawasan budaya harus didukung dengan keinginan, dorongan semangat membangun konsep budaya kota. Konsep berwawasan budaya didukung budaya kota yang berlandaskan atas filosofi agama, dan kebudayaan yang berkembang. 

Sementara I.B Gede Wiyana yang juga Ketua Forum Kerukunaan Umat Beragama (FKUB) Denpasar dalam makalahnya mengatakan ancaman dan tekanan dalam globalisasi dengan muatan falsafah hidup yang pragmatis dan nilai-nilai universal akan memberi pengaruh kepada nilai lokal. Seperti bagaimana seharusnya hidup, berpikir dan berbuat atau bertindak serta tingkah laku. Disamping itu tingkat pertambahan penduduk yang cepat terutama oleh migran yang berbeda budaya akan menimbulkan konsekuensi yang luas. Seperti kurangnya skill tertentu atau kurangnya modal yang berakibat pada peningkatan pengangguran dan kriminalitas serta dapat merusak tatanan kehidupan di Bali. Permasalahan tersebut dibutuhkan suatu pendekatan salah satunya pada kelembagaan adat yakni Desa Pakraman dengan meningkatkan fungsi dan peran Desa Pakraman dalam memberikan asupan pembangunan kepada pemerintah yang berorientasi pada masyarakat miskin atau tertinggal

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar